Why Beverages Industry?
Tubuh manusia terdiri dari sekitar 68% air. Itulah sebabnya maka air bisa dianggap sebagai “zat gizi” paling esensial bagi tubuh. Air diperlukan pada semua aktivitas fisiologi manusia; sehingga berbagai fungsi vital tubuh akan terganggu jika seseorang mengalami dehidrasi berlebihan. Umumnya disarankan bahwa paling tidak seseorang memerlukan 2-3 liter air setiap harinya. Semakin tinggi tingkat aktivitas seseorang atau semakin tinggi suhu udara; semakin banyak air yang diperlukan untuk memelihara fungsi tubuh dengan baik. Karena alasan dasar itulah maka industri minuman tumbuh dengan subur.
Sementara itu, ilmu yang mempelajari dehidrasi serta kaitannya dengan kesehatan dan kebugaran terus berkembang. Hal ini menyebabkan berkembangnya berbagai jenis minuman, yang didesain untuk memberikan reaksi fisiologis tertentu pula. Aneka kategori minuman pun bermunculan; seperti sparkling waters, fruit juices, herbal teas, decaf coffee/tea, dairy beverages, dan tentu saja sodas (colas with caffeine, etc.), serta coffee & teas with caffeine. Jadi, minuman tidak lagi disuguhkan untuk menghilangkan rasa haus; tetapi juga untuk fungsi-fungsi kesehatan dan kebugaran.
Disinilah industri dituntut untuk selalu melakukan inovasi pada semua aspek produk dan produksi minuman, baik dari segi bahan baku, ingridien, teknologi, dan kemasan -yang intinya adalah membuat produk lebih sehat, praktis, dan efisien. Dengan inovasi yang tepat, industri minuman bisa tetap tumbuh. Terbukti, krisis ekonomi global dan perubahan iklim tidak bisa menghentikan produk ini untuk tetap tumbuh.
Namun demikian, industri minuman dalam beberapa waktu ke depan akan menghadapi banyak tantangan. Pertama tentunya adalah adanya China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA). Dengan berlakunya CAFTA, produk minuman Indonesia akan mendapat tantangan serius dari produk-produk Cina dan negara ASEAN lainnya. Untuk produk minuman cair, produk Cina mungkin agak terhambat dengan besarnya biaya transportasi yang harus ditanggung oleh produsen negara tersebut. Namun demikian, produsen minuman dalam negeri harus tetap berhati-hati, terutama dalam menjaga mutu, efisiensi, dan inovasi.
Tantangan kedua adalah semakin ramainya pasar dengan aneka jenis minuman. Bahkan, pada kategori tertentu bisa dikatakan telah mencapai titik jenuh. Sehingga diperlukan inovasi untuk mengatasi kejenuhan tersebut.
Tantangan ketiga adalah harga minyak bumi yang akan mengakibatkan fluktuasi harga bahan baku, kemasan, dan komponen pendukung lainnya. Harga minyak bumi ini mungkin akan menjadi masalah “tersulit” yang harus dihadapi. Apalagi konsumen Indonesia, terkenal menganut istilah “magic price”.
Namun dalam tantangan tetaplah ada peluang. Selamat membaca
Pemimpin Redaksi
Purwiyatno Hariyadi, Ph.D |